Keamanan

Senator Filipina desak perlawanan "tanpa henti" terhadap Tiongkok saat kunjungi Thitu

Senator Risa Hontiveros menyerukan patroli bersama dan penguatan kerja sama pertahanan Filipina dengan negara-negara “sepemikiran” saat mengunjungi Pulau Thitu, yang juga diklaim oleh Tiongkok.

Senator Filipina Risa Hontiveros mengibarkan bendera Filipina di Pulau Thitu, Laut Tiongkok Selatan, pada 21 Februari. Dalam kunjungannya ke pos terdepan Filipina yang disengketakan itu, Hontiveros menyerukan penguatan hubungan pertahanan serta perlawanan “tanpa henti” terhadap klaim teritorial Tiongkok. [Jam Sta Rosa/AFP]
Senator Filipina Risa Hontiveros mengibarkan bendera Filipina di Pulau Thitu, Laut Tiongkok Selatan, pada 21 Februari. Dalam kunjungannya ke pos terdepan Filipina yang disengketakan itu, Hontiveros menyerukan penguatan hubungan pertahanan serta perlawanan “tanpa henti” terhadap klaim teritorial Tiongkok. [Jam Sta Rosa/AFP]

Oleh AFP dan Focus |

PULAU THITU, Filipina — Seorang senator Filipina menyerukan perluasan hubungan pertahanan serta perlawanan “tanpa henti” terhadap klaim Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan saat mengunjungi salah satu pulau kecil milik Manila di perairan sengketa tersebut pada 21 Februari.

Pulau Thitu, yang dikenal sebagai Pag-asa di Filipina, dihuni sekitar 400 warga Filipina, sebagian besar nelayan dan keluarga mereka. Tiongkok menuding permukiman itu ilegal. Pulau ini terletak sekitar 450 kilometer di sebelah barat Palawan, di dalam gugusan Kepulauan Spratly — yang terdiri lebih dari 700 pulau kecil, terumbu, dan atol sengketa dan diyakini menyimpan kekayaan sumber daya alam yang melimpah.

Senator Risa Hontiveros, yang dikenal vokal mengkritik Tiongkok, mengatakan kepada AFP pada 21 Februari bahwa ia yakin rakyat Filipina tidak akan menyerahkan “sejengkal pun dari Laut Filipina Barat,” istilah yang digunakan Manila untuk menyebut perairan di lepas pantai baratnya.

Desakan "perlawanan tanpa henti"

"Kita membutuhkan perlawanan diplomatik dan politik yang dilakukan terus-menerus," tegas Hontiveros setelah menempuh perjalanan udara selama lebih dari dua jam bersama sejumlah jurnalis lokal.

Sebuah kapal Penjaga Pantai Tiongkok terlihat saat warga mengendarai sepeda motor di Pulau Thitu, Filipina, di Laut Tiongkok Selatan pada 21 Februari. [Jam Sta Rosa/AFP]
Sebuah kapal Penjaga Pantai Tiongkok terlihat saat warga mengendarai sepeda motor di Pulau Thitu, Filipina, di Laut Tiongkok Selatan pada 21 Februari. [Jam Sta Rosa/AFP]

Meski menyambut baik penguatan hubungan perjanjian pertahanan Filipina dengan Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir, Hontiveros berharap Manila dapat merangkul lebih banyak "negara-negara yang berpikiran serupa." "Kita perlu terus mengembangkan hubungan keamanan dan pertahanan dengan negara lain, termasuk patroli bersama," katanya.

Seorang jurnalis AFP yang terbang ke Pulau Thitu dengan pesawat kedua melihat kapal angkatan laut dan penjaga pantai Tiongkok berpatroli di dekat pulau tersebut.

Hontiveros, yang sempat menyadari karakter di layar ponselnya berubah menjadi aksara Mandarin sesaat sebelum mendarat, menyatakan kunjungannya bertujuan membawa bantuan logistik dan layanan medis untuk mendukung pembangunan di pulau itu.

Hingga berita ini diturunkan, Kedutaan Tiongkok di Manila belum merespons permintaan konfirmasi.

Kunjungan Hontiveros berlangsung di tengah diskusi para pejabat di Manila mengenai strategi pertahanan Grup Kepulauan Kalayaan, yang mencakup Thitu. Senat Filipina dan Kedutaan Besar Tiongkok juga telah saling melontarkan kritik tajam dalam beberapa pekan terakhir, sementara pejabat tinggi lainnya menyatakan niat untuk memperkuat kehadiran di pulau tersebut.

Presiden Sementara Senat Panfilo “Ping” Lacson mengatakan ingin kembali mengunjungi Thitu jika transportasi dan jadwal Senat memungkinkan. Ia menyebut pulau tersebut masih memiliki “kekurangan” dalam infrastruktur, khususnya di bidang pendidikan. Ia terakhir berkunjung pada tahun 2021.

Kekhawatiran akan penyusupan atau invasi Tiongkok

Senada dengan Hontiveros, Lacson menekankan pentingnya sikap tegas. "Sudah menjadi kewajiban kita, khususnya Angkatan Bersenjata, untuk melindungi dan mempertahankan Pag-asa dari penyusupan maupun skenario terburuk, yaitu invasi," ujar Lacson sebagaimana dikutip dari Philippine Daily Inquirer.

Secara terpisah, Kepolisian Nasional Filipina (PNP) menyatakan telah menyiagakan personel di Thitu untuk fokus pada keamanan internal dan ketertiban umum, sementara militer memimpin pertahanan eksternal. Kepala PNP Jenderal Jose Melencio Nartatez Jr. mengatakan pihaknya berkoordinasi dengan militer, penjaga pantai, pemerintah pulau, dan lembaga lain dalam perencanaan perlindungan serta respons darurat, lapor Inquirer sebelumnya pada bulan Februari.

Menanggapi potensi konflik AS-Tiongkok terkait Taiwan, Hontiveros memperingatkan Filipina harus “sangat waspada,” mengingat kedekatan Kepulauan Batanes — wilayah paling utara Filipina — dengan Taiwan.

Tiongkok menganggap pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu sebagai bagian dari wilayahnya dan telah mengancam akan merebutnya dengan kekuatan militer.

"Banyak warga negara kita yang bekerja di sana (Taiwan). Hal ini menjadi alasan kuat bagi kita untuk bersikap proaktif dalam menyerukan penyelesaian konflik secara damai," pungkasnya.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link