Keamanan

Jajak pendapat: 74% warga Jepang dukung penguatan pertahanan seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap Tiongkok

Jajak pendapat nasional mengungkapkan dukungan untuk militer yang lebih kuat, peningkatan belanja pertahanan, dan integrasi teknologi sipil ke keamanan nasional.

Penerjunan perbekalan dari udara untuk Angkatan Darat Bela Diri Jepang saat latihan Airborne 26 di Area Manuver Fuji Timur di Jepang pada 2 Maret. Latihan itu melibatkan pesawat AS dan pasukan Jepang dalam latihan penerjunan udara gabungan. [Pratu David S. Calcote/Angkatan Udara AS]
Penerjunan perbekalan dari udara untuk Angkatan Darat Bela Diri Jepang saat latihan Airborne 26 di Area Manuver Fuji Timur di Jepang pada 2 Maret. Latihan itu melibatkan pesawat AS dan pasukan Jepang dalam latihan penerjunan udara gabungan. [Pratu David S. Calcote/Angkatan Udara AS]

Oleh Focus |

TOKYO -- Survei opini publik gabungan yang dilakukan Yomiuri Shimbun dan Japan Institute of International Affairs menemukan bahwa 74% responden mendukung penguatan kemampuan pertahanan Jepang, sementara 58% mendukung peningkatan belanja pertahanan, yang mencerminkan kekhawatiran publik terhadap lingkungan keamanan regional.

Survei yang dilakukan dari 20 hingga 22 Maret ini menunjukkan Tiongkok tetap menjadi ancaman utama dalam persepsi publik Jepang. Sebanyak 93% responden merasa terancam oleh Tiongkok, termasuk 67% yang merasa "sangat terancam" dan 26% yang terancam "dalam kadar tertentu".

Rencana merevisi kebijakan keamanan

Jepang berencana merevisi tiga dokumen keamanan utama pada akhir tahun ini, dengan peningkatan belanja pertahanan dan sumber pendanaan menjadi isu utama, menurut Yomiuri Shimbun.

Angka 93% tidak banyak berubah dari jajak pendapat 2024, ketika 91% mengatakan mereka merasa terancam oleh Tiongkok. Namun, persentase yang merasa "sangat terancam" meningkat 9 persen. Laporan itu menyatakan bahwa pergeseran tersebut mungkin mencerminkan tekanan hebat dari Beijing setelah pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi di parlemen November lalu tentang kemungkinan invasi Taiwan, menurut Yomiuri Shimbun.

Penerjun payung Angkatan Darat Bela Diri Jepang bergerak setelah mendarat saat latihan Airborne 23 di Area Manuver Fuji Timur di Jepang, 31 Januari 2023. Latihan tahunan ini mengintegrasikan pasukan udara dan darat Jepang dan AS. [Yasuo Osakabe/Angkatan Udara AS]
Penerjun payung Angkatan Darat Bela Diri Jepang bergerak setelah mendarat saat latihan Airborne 23 di Area Manuver Fuji Timur di Jepang, 31 Januari 2023. Latihan tahunan ini mengintegrasikan pasukan udara dan darat Jepang dan AS. [Yasuo Osakabe/Angkatan Udara AS]

Sementara itu, 87% responden merasa terancam oleh Korea Utara, dengan persentase yang sama menyatakan kekhawatiran tentang Rusia -- angka yang secara umum tidak berubah dari dua tahun lalu.

Kepercayaan terhadap AS masih kuat

Terlepas dari meningkatnya kekhawatiran terhadap kekuatan negara tetangga, kepercayaan terhadap Amerika Serikat tetap kuat. Jajak pendapat menemukan bahwa 79% mengatakan aliansi Jepang-AS berfungsi sebagai penangkal serangan yang kredibel, sementara 19% tidak setuju.

Responden muda memandang aliansi itu sangat efektif; 84% responden usia 18-39 tahun menganggap aliansi itu memperkuat daya tangkal, dibandingkan 73% responden usia 60 tahun ke atas.

Perbedaan usia juga terlihat dalam sikap terhadap kebijakan pertahanan secara luas. Dukungan untuk memperkuat kemampuan pertahanan Jepang mencapai 86% di kalangan responden usia 18-39 tahun, dibandingkan 77% responden usia 40-59 tahun, dan 66% yang berusia 60 tahun ke atas.

Laporan itu menunjukkan generasi muda Jepang mungkin lebih khawatir soal lingkungan keamanan Jepang di masa depan.

Dalam pertanyaan pilihan ganda tentang perkembangan yang dikhawatirkan di masa depan, 29% responden muda memilih kemungkinan konflik bersenjata dengan negara asing, lebih tinggi daripada 21% responden yang lebih tua. Kaum muda mengungkapkan kekhawatiran yang lebih besar tentang memburuknya keamanan publik dan terorisme internasional.

Generasi muda Jepang lebih mendukung peningkatan pertahanan

Dukungan peningkatan belanja pertahanan lebih menonjol di kalangan responden muda, yaitu sebanyak 64%, dibandingkan 54% di kalangan responden yang lebih tua.

Saat ditanya soal sumber dana pertahanan, 40% menjawab pemerintah harus memangkas pos anggaran lainnya. Diikuti penerbitan obligasi pemerintah sebanyak 18%, dan menaikkan pajak sebanyak 7%. Sedangkan 30% lainnya tidak melihat perlunya peningkatan belanja pertahanan.

Responden muda cenderung mendukung pemotongan pos anggaran lain, yaitu sebanyak 44%, dan penerbitan obligasi, sebanyak 24%. Hanya 5% yang mendukung kenaikan pajak, sementara 22% menentang kenaikan pengeluaran—persentase yang lebih rendah daripada rata-rata nasional.

Survei itu menemukan responden mendukung pemanfaatan teknologi canggih dari universitas, lembaga penelitian, dan perusahaan swasta untuk keperluan pertahanan. Sekitar 70% mengatakan mereka mendukung hal tersebut, sementara 27% menentangnya.

Mengenai ketahanan ekonomi, 78% setuju Jepang harus memperkuat produksi dalam negeri barang penting seperti semikonduktor, diikuti promosi daur ulang elektronik untuk memperoleh mineral kritis (55%), dan pengembangan teknologi guna mengurangi ketergantungan pada negara asing (52%).

Mengenai persepsi pengaruh global, 71% memilih Amerika Serikat sebagai negara atau wilayah yang kemungkinan besar memiliki pengaruh internasional terbesar di masa depan, jauh di atas Tiongkok yang hanya 16%. India berada di urutan berikutnya dengan 4%, diikuti oleh Jepang dengan 2%.

Survei ini dilakukan melalui surat pos kepada 3.000 responden yang memenuhi syarat di seluruh negeri, dengan tingkat tanggapan sebanyak 70%.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link