Kriminalitas & Keadilan

Iran tingkatkan transfer minyak gelap di dekat Malaysia untuk hindari sanksi AS

Data maritim menunjukkan lonjakan pemindahan minyak Iran secara diam-diam di dekat pantai Malaysia, membuktikan Teheran tetap bisa mengekspor kendati sanksi AS semakin meluas.

Kapal USS Abraham Lincoln melakukan operasi di Laut Arab, termasuk blokade AS terhadap jalur pelayaran Iran, dalam foto yang dikeluarkan oleh Komando Pusat AS pada 12 Mei. [X/Komando Pusat AS]
Kapal USS Abraham Lincoln melakukan operasi di Laut Arab, termasuk blokade AS terhadap jalur pelayaran Iran, dalam foto yang dikeluarkan oleh Komando Pusat AS pada 12 Mei. [X/Komando Pusat AS]

Oleh Zarak Khan |

Perairan internasional di dekat Malaysia menjadi garis depan dalam kampanye AS untuk memutus pendapatan minyak Iran, karena Teheran kian bergantung pada jaringan maritim di Asia Tenggara untuk menghindari sanksi dan menunjang ekonominya di tengah meningkatnya tekanan Barat.

Meskipun pengawasan AS terhadap pelabuhan dan jalur pelayaran Iran di dekat Selat Hormuz semakin ketat, Teheran terus mengirimkan minyak mentah melalui "armada gelap" yang beroperasi di perairan Asia Tenggara, menurut analis maritim.

Sebagian besar kegiatan itu berpusat di dekat negara bagian Johor di selatan Malaysia. Jalur pelayaran yang padat membuat transfer antarkapal semakin sulit dilacak.

Hasil blokade belum maksimal

Sejak mulai blokade AS pada 13 April, dengan tujuan memutus aliran pendapatan Iran, pasukan AS telah mengalihkan 85 kapal yang hendak menghindari blokade itu, kata Komando Pusat (CENTCOM) pada 18 Mei.

Anggota satuan khusus AL Malaysia menggunakan jet ski saat patroli dan misi operasi khusus di perairan dangkal dan sempit pada bulan Januari untuk mendukung pengawasan maritim. [X/AL Kerajaan Malaysia]
Anggota satuan khusus AL Malaysia menggunakan jet ski saat patroli dan misi operasi khusus di perairan dangkal dan sempit pada bulan Januari untuk mendukung pengawasan maritim. [X/AL Kerajaan Malaysia]

AS berulang kali menjatuhkan sanksi kepada perusahaan pelayaran, perantara, dan perusahaan asuransi yang terkait dengan perdagangan ini.

Namun, penegakan pemberlakuan tetap menjadi tantangan karena banyak operasi berlangsung di perairan internasional yang kurang diawasi dan melibatkan jaringan pemilikan berlapis.

Walaupun ada sanksi AS, "sekitar 30 kapal berbendera Iran masih secara terbuka berlayar, berlabuh, dan berjangkar di seluruh wilayah Indo-Pasifik," kata United Against Nuclear Iran (UANI), kelompok advokasi yang berbasis di AS, pada 18 Mei.

Lokasi hangat armada hantu

Analis maritim dan data pelacakan satelit menunjukkan bahwa kapal tanker yang terkait dengan armada bayangan Iran semakin sering berkeliaran di dekat area jangkar Batas Pelabuhan Luar Bagian Timur (EOPL).

Zona maritim penting di Laut Tiongkok Selatan ini terletak sekitar 45 mil laut dari pantai Semenanjung Malaysia, di dalam Zona Ekonomi Eksklusif negara itu.

Area ini terletak di salah satu jalur perdagangan maritim tersibuk di dunia dan kira-kira di tengah-tengah antara Iran dan Tiongkok, yang membeli sekitar 90% ekspor minyak Iran.

Perairan di lepas pantai Johor, Malaysia, menjadi pusat kegiatan armada gelap Iran -- kapal tanker tua yang sering menonaktifkan sistem pelacakan, menyembunyikan catatan pemilikan, dan memindahkan minyak mentah di laut untuk mengaburkan asal-usulnya. Menurut pengamat, sebagian besar minyak itu dikirim ke Tiongkok.

Peningkatan kegiatan terlarang

Data yang dikumpulkan oleh UANI menunjukkan peningkatan tajam kegiatan di kawasan itu sejak pecah konflik AS-Israel dengan Iran pada 28 Februari.

Menurut UANI, setidaknya 32 kapal tanker berbendera Iran memasuki perairan Asia Tenggara menuju area jangkar EOPL di lepas pantai Johor, Malaysia. Pada saat yang sama, organisasi itu mencatat setidaknya 35 kapal tanker berbendera Iran pulang bermuatan kosong ke Iran dari EOPL Malaysia dan jalur laut Asia Tenggara di sekitarnya.

Kapal VELON 1 berbendera Iran, yang dikenai sanksi oleh Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan AS, diperkirakan akan tiba di Pelabuhan Klang, Malaysia, pada 29 Mei setelah berangkat dari Rusia pada 23 April, menurut UANI.

Kapal tanker berbendera Iran lainnya, HUGE, yang mungkin membawa minyak Iran menuju Tiongkok, terlacak pada 13 Mei melintasi Laut Tiongkok Selatan ke arah utara setelah tampaknya meninggalkan Iran setelah pemberlakuan blokade.

Kapal itu tampaknya mengambil rute yang tidak ekonomis melalui Selat Lombok di Indonesia sambil tetap mengaktifkan sinyal Sistem Identifikasi Otomatisnya, kata UANI. Taktik ini dipakai untuk menghindari pencegatan oleh pasukan AS di Selat Malaka dan Singapura.

Organisasi itu mencatat setidaknya 43 pemindahan minyak Iran antarkapal di area jangkar EOPL, yang disebutnya sebagai "lokasi hangat armada hantu". Lokasi itu berada sekitar 45 mil laut dari pantai Malaysia. Semua pengalihan itu terdeteksi di citra satelit, katanya.

Malaysia bisa berbuat lebih banyak

UANI mengatakan Malaysia bisa mewajibkan pemberitahuan transfer antarkapal, melarang perusahaan Malaysia melayani kapal yang dikenai sanksi, dan memaksa kapal yang beroperasi di perairannya untuk memiliki asuransi yang memadai terhadap kecelakaan dan tumpahan minyak.

"Karena kelalaian Malaysia, negara itu memfasilitasi model bisnis Iran, Tiongkok, dan pelaku armada gelap ini," kata Charlie Brown, penasihat senior UANI, kepada Associated Press (AP) pada 14 Mei.

Malaysia berisiko menjadi "fasilitator alih-alih sekadar titik transit" bagi kegiatan ilegal, katanya.

Pemerintah Malaysia menyanggah dengan mengatakan bahwa banyak transfer itu dilakukan di luar perairan teritorialnya dan di daerah terpencil yang tidak masuk jangkauan radar.

"Pemilihan lokasi itu bertujuan untuk mengeksploitasi celah yurisdiksi dan membatasi tindakan penegakan hukum langsung oleh otoritas lokal," kata Mohamad Rosli Abdullah, direktur jenderal Badan Penegakan Maritim Malaysia, kepada AP.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link