Oleh Wu Qiaoxi |
Klaim persahabatan antara Tiongkok-Vietnam bertolak belakang dengan tindakan kedua negara tersebut di Laut Tiongkok Selatan.
Presiden Vietnam To Lam mengunjungi Tiongkok pada bulan April dalam kunjungan luar negeri pertamanya sejak dilantik. Pernyataan bersama yang dikeluarkan selama kunjungan tersebut menjanjikan pendalaman kerja sama strategis yang komprehensif dan menegaskan kembali pentingnya mengelola sengketa maritim.
Namun, itikad baik diplomatik tersebut kontras dengan persaingan yang terus berlangsung di Laut Tiongkok Selatan. Analisis terbaru lembaga pemikir Amerika Serikat menunjukkan Vietnam mempertahankan laju reklamasi lahan yang cepat di Kepulauan Spratly sambil semakin beralih ke pembangunan infrastruktur.
Citra satelit yang dirilis pada bulan Mei menunjukkan Vietnam melanjutkan pengerukan dan reklamasi lahan menyusul pengukuran yang dilakukan pada Maret 2025, menurut Inisiatif Transparansi Maritim Asia (AMTI), yang merupakan bagian dari Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS).
![Grafik CSIS/AMTI membandingkan Terumbu Karang Antelope milik Tiongkok dan Terumbu Karang Barque Canada milik Vietnam, dua pulau buatan terbesar yang dikuasai masing-masing negara di Kepulauan Spratly. Meski Vietnam melakukan ekspansi cepat, Terumbu Karang Barque Canada masih hanya sekitar setengah ukuran Terumbu Karang Antelope. [CSIS/AMTI]](/gc9/images/2026/05/29/56342-2-370_237.webp)
Vietnam menciptakan sekitar 534 acre lahan baru dalam setahun terakhir, sehingga total area reklamasinya mencapai sekitar 2.771 acre.
Terumbu Karang Barque Canada kini menjadi pos terdepan terbesar Vietnam di Laut Tiongkok Selatan.
Dorongan pembangunan infrastruktur
Vietnam juga membangun infrastruktur khusus di sejumlah pos terdepan lain yang lebih besar. Citra satelit menunjukkan Hanoi telah memasang suar navigasi Jangkauan Omnidireksional Frekuensi Sangat Tinggi Doppler di Terumbu Karang Barque Canada, menggunakan peralatan yang serupa dengan sistem navigasi yang dipasang di lapangan udara Tiongkok di Kepulauan Spratly.
Sistem tersebut mampu menyediakan navigasi pesawat secara presisi dalam radius sekitar 100 mil laut.
Menurut lembaga pemikir Chatham House di London, program reklamasi Vietnam kini mencakup 21 terumbu karang, gosong, dan hamparan pasir yang berada di bawah kendalinya di Kepulauan Spratly. Vietnam kini tengah pesat membangun pelabuhan, landasan udara, dan fasilitas militer lainnya di wilayah-wilayah tersebut.
“Program keseluruhan ini sangat dramatis dan menunjukkan Vietnam mengeluarkan dana besar untuk mempertahankan posisinya di Spratly,” kata Bill Hayton, seorang pakar di Program Asia-Pasifik Chatham House, pada bulan Maret.
Vietnam kini mengoperasikan 15 pelabuhan di Spratly, 11 di antaranya dibangun sejak tahun 2021. Fasilitas baru kini sedang dibangun di Terumbu Karang Grierson, Terumbu Karang Petley, dan Terumbu Karang South.
Memperkecil kesenjangan
Ekspansi Vietnam sempat membuat negara itu hampir menyamai laju reklamasi Tiongkok pada awal 2025. Namun, Tiongkok kemudian mulai mengerjakan Terumbu Karang Antelope dan kembali memperlebar kesenjangan.
AMTI menyebut aktivitas di Terumbu Karang Antelope di Kepulauan Paracel, yang merupakan reklamasi besar pertama Tiongkok sejak tahun 2017, berpotensi menghasilkan pulau buatan yang menyaingi atau melampaui ukuran Terumbu Karang Mischief. Terumbu itu dapat menjadi fitur terbesar milik Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan.
Hanoi mengecam pembangunan yang dilakukan Tiongkok di Terumbu Karang Antelope sebagai “sepenuhnya ilegal dan tidak sah.”
Total luas lahan buatan Tiongkok di Spratly kini mencapai sekitar 5.460 acre, sementara reklamasi yang dilakukannya diperkirakan telah merusak sekitar 6.224 acre terumbu karang.
Pengerukan dan reklamasi Vietnam sendiri telah merusak sekitar 4.120 acre terumbu karang di Spratly, setara dengan 66% dari total kerusakan yang ditimbulkan Tiongkok.
Tiongkok mengklaim kedaulatan atas sebagian besar Laut Tiongkok Selatan. Klaim ini dibatalkan oleh putusan arbitrase internasional pada tahun 2016. Beijing tahun lalu menyatakan menentang pembangunan Vietnam di Terumbu Karang Barque Canada, yang dianggapnya sebagai wilayah Tiongkok.
Dampak di masa depan
Fokus persaingan kini semakin bergeser dari reklamasi lahan menuju pembangunan infrastruktur, menurut AMTI.
“Dengan sebagian besar pulau hasil ekspansi Hanoi kini telah terbentuk sepenuhnya, transisi menuju pembangunan infrastruktur telah dimulai,” kata lembaga tersebut.
“Namun, dampak penuh dari ekspansi Hanoi baru akan terasa setelah fasilitas-fasilitas ini selesai dan militer serta aparat penegak hukum Vietnam mulai beroperasi dari sana.”
Tren ini dapat menghadirkan konsekuensi yang lebih luas di seluruh kawasan, menurut para peneliti.
"Hal ini telah membuka kotak Pandora yang dapat memicu persaingan pembangunan pulau di seluruh Laut Tiongkok Selatan," kata Nitya Labh, seorang peneliti di Chatham House.
![Citra satelit menunjukkan perkembangan konstruksi di Terumbu Karang Barque Canada yang dikuasai Vietnam di Kepulauan Spratly pada 24 September 2025 (kanan bawah), 4 April 2026 (kanan atas), dan 30 April 2026 (kiri). Gambar-gambar tersebut memperlihatkan pembangunan pesat fasilitas navigasi Jangkauan Omnidireksional Frekuensi Sangat Tinggi Doppler. [Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS)/Inisiatif Transparansi Maritim Asia (AMTI)/Citra Satelit Vantor]](/gc9/images/2026/05/29/56341-barque_canada_reef-370_237.webp)