Oleh Ha Er-rui |
Para demonstran Thailand menuntut diakhirinya pencemaran sungai mereka yang dibiayai Tiongkok.
Para pengunjuk rasa berbaris melintasi Bangkok sambil membawa poster bertuliskan, “Ini Thailand, bukan Tiananmen,” dan “Hentikan kekerasan terhadap pembela lingkungan.” Poster-poster lainnya menyerukan, “Pencemaran tidak mengenal perbatasan. Tanggung jawab juga seharusnya demikian,” dan “Energi bersih tidak boleh menyebabkan sungai tercemar.”
Warga Thailand yang marah berdemonstrasi di luar Konsulat Tiongkok di Chiang Mai pada 6 Juli dan Kedutaan Besar Tiongkok di Bangkok dua hari kemudian. Mereka memprotes tambang emas dan logam tanah jarang di Myanmar yang menurut mereka telah menyebabkan pencemaran berat pada sungai-sungai di wilayah hilir.
Pencemaran arsenik dan timbal
Para pengunjuk rasa bereaksi terhadap kadar arsenik dan timbal yang berlebihan di sungai-sungai Thailand bagian utara. Pihak berwenang telah memantau kandungan logam berat di sungai-sungai tersebut sejak berbagai peristiwa mengkhawatirkan mulai terjadi pada akhir tahun 2024.
![Demonstran Thailand yang mengenakan masker bergambar Presiden Tiongkok Xi Jinping berdemonstrasi di luar Kedutaan Besar Tiongkok di Bangkok pada 8 Juli. Mereka mendesak Beijing untuk menangani pencemaran lintas batas negara. [NGO-CCD]](/gc9/images/2026/07/24/57208-1-370_237.webp)
Sungai Kok yang sebelumnya jernih telah berubah menjadi keruh, demikian dilaporkan Bangkok Post pada Mei 2025. Anak-anak yang bermain di sungai tersebut mengalami ruam kulit. Para petani mendapati tanaman mereka layu.
Pihak berwenang pada awal tahun 2025 menemukan kadar arsenik dan timbal di atas batas aman di distrik Mae Ai, provinsi Chiang Mai, demikian dilaporkan Bangkok Post saat itu.
Setahun kemudian, pihak berwenang Thailand menguji berbagai sungai di Provinsi Chiang Mai dan Chiang Rai pada 27 April–1 Mei dan menemukan kadar arsenik yang masih tidak normal di Sungai Kok dan Sungai Sai. Mereka juga menemukan kadar mangan yang tidak aman di Sungai Sai, menurut situs berita The Nation dari Thailand.
Suatu unjuk rasa berujung ricuh
Meskipun aksi di Bangkok berlangsung damai, unjuk rasa sebelumnya di Chiang Mai berujung ricuh dan menyebabkan dua demonstran terluka.
Para demonstran di Bangkok mengenakan masker bergambar Presiden Tiongkok Xi Jinping, sementara para pengunjuk rasa di Chiang Mai secara simbolis menyiapkan larb pla -- hidangan pedas Thailand yang dibuat dari ikan mentah yang ditangkap dari Sungai Kok yang tercemar.
Saat membacakan pernyataan di luar Kedutaan Besar Tiongkok di Bangkok, Lertsak Kamkongsak, ketua NGO Coordinating Committee on Development (NGO-COD), mendesak Beijing untuk memprioritaskan penyelesaian masalah pencemaran lintas batas negara.
Pertambangan di tengah perang saudara
Pernyataan tersebut mengutip laporan ditemukannya logam berat di perairan Thailand bagian utara dan menuntut penyelidikan terhadap tambang-tambang yang didukung investasi Tiongkok di Negara Bagian Shan, Myanmar. Investasi lintas batas negara harus disertai dengan perlindungan lingkungan dan akuntabilitas perusahaan bagi masyarakat di hilir yang terdampak, tegas Lertsak.
Para pemimpin aksi protes mengatakan bahwa pertambangan yang didukung investasi Tiongkok telah berkembang pesat ke wilayah Myanmar di luar kendali junta selama perang saudara di negara tersebut.
Mereka mengatakan pertumbuhan pertambangan di wilayah yang tidak memiliki pengawasan efektif tersebut membuat masyarakat di hilir tidak memiliki peluang untuk meminta pertanggungjawaban para pencemar.
Menuntut pertanggungjawaban Tiongkok
Tiongkok mendukung koordinasi yang lebih erat antara Thailand dan Myanmar, kata juru bicara kedutaan besar Tiongkok di Bangkok. Kedutaan tersebut mendesak kedua negara untuk secara bersama-sama menyelidiki masalah tersebut sesegera mungkin.
Namun, para pengunjuk rasa menuntut Beijing membuktikan komitmennya untuk memastikan perusahaan-perusahaan Tiongkok di luar negeri mematuhi hukum negara tuan rumah serta “standar internasional mengenai lingkungan hidup dan hak asasi manusia,” menurut pernyataan NGO-COD di Facebook.
Tiongkok tidak boleh membangun kemakmurannya "di atas kematian sungai dan masyarakat di luar batas wilayahnya," tambah pernyataan tersebut. "Jika keuntungan dapat melintasi perbatasan, maka tanggung jawab juga harus melintasi perbatasan."
![Demonstran Thailand memegang poster di luar Kedutaan Besar Tiongkok di Bangkok pada 8 Juli, memprotes pencemaran sungai yang menurut mereka berasal dari kegiatan pertambangan yang didukung Tiongkok di Myanmar. [Facebook/NGO Coordinating Committee on Development (NGO-COD)]](/gc9/images/2026/07/24/57206-2-370_237.webp)