Ilmu Pengetahuan & Teknologi

Ekspor senjata Tiongkok disorot kembali, terkait masalah keandalan dan lemahnya perawatan

Tank, pesawat terbang, drone, dan kapal perang Tiongkok yang cacat di seluruh dunia telah mengecewakan pasukan dan bahkan menewaskan pilot.

Tank VT4 (depan) dan VT5 melakukan demonstrasi mobilitas darat di Pameran Dirgantara Tiongkok 2018 di Zhuhai, Provinsi Guangdong, Tiongkok, pada 7 November 2018. Tank VT4 termasuk dalam sistem buatan Tiongkok yang diekspor ke luar negeri, yang menurut analis menghadapi pertanyaan mengenai keandalan dan dukungan teknis jangka panjang. [Shui Guotang/Imaginechina via AFP]
Tank VT4 (depan) dan VT5 melakukan demonstrasi mobilitas darat di Pameran Dirgantara Tiongkok 2018 di Zhuhai, Provinsi Guangdong, Tiongkok, pada 7 November 2018. Tank VT4 termasuk dalam sistem buatan Tiongkok yang diekspor ke luar negeri, yang menurut analis menghadapi pertanyaan mengenai keandalan dan dukungan teknis jangka panjang. [Shui Guotang/Imaginechina via AFP]

Oleh Jia Feimao |

Ekspor pertahanan Tiongkok kembali menghadapi sorotan karena beberapa pengguna luar negeri melaporkan ketidakandalan yang terus-menerus terjadi dan dukungan purnajual yang lemah. Masalah ini menimbulkan pertanyaan tentang kelayakan sistem yang lebih murah dalam pertempuran nyata.

Pada sebuah penilaian awal Februari, Sam Cranny-Evans, seorang peneliti senior di bidang ilmu militer di Royal United Services Institute, mengatakan kelemahan dan kekurangan dalam pemeliharaan telah dilaporkan di berbagai platform darat, udara, dan laut, dan dampaknya semakin parah ketika pelanggan kesulitan mendapatkan suku cadang, perbaikan, atau bantuan teknis.

Tank rusak

Penilaian ini menelusuri pola tersebut hingga puluhan tahun ke belakang, mengutip pengalaman Tailan dengan tank Tipe 69-II buatan Tiongkok yang dikirim pada tahun 1988. Armada tersebut “terbukti tidak dapat diandalkan dan pemasokan suku cadang menjadi masalah,” dan Tailan menghentikan penggunaannya pada tahun 2004. Sementara itu, tank M48 buatan AS yang lebih tua masih tetap beroperasi.

Biaya dan pertimbangan politik dapat lebih diutamakan daripada kinerja dalam keputusan pengadaan, kata laporan tersebut, menggambarkan persyaratan Tiongkok sebagai “harga persahabatan.” “Lebih baik memiliki tank yang tidak dapat diandalkan daripada tidak memiliki tank sama sekali,” tambah laporan tersebut, mencerminkan kompromi yang dibuat oleh beberapa pembeli ketika alternatif Barat lebih mahal.

Pesawat tempur multiguna JF-17 Thunder milik Angkatan Udara Pakistan, yang dikembangkan bersama oleh Tiongkok dan Pakistan, tampil dalam demonstrasi penerbangan di Paris Air Show pada bulan Juni 2019. [Nicolas Economou/NurPhoto via AFP]
Pesawat tempur multiguna JF-17 Thunder milik Angkatan Udara Pakistan, yang dikembangkan bersama oleh Tiongkok dan Pakistan, tampil dalam demonstrasi penerbangan di Paris Air Show pada bulan Juni 2019. [Nicolas Economou/NurPhoto via AFP]

Tailan setelahnya membeli tank VT4 buatan Tiongkok, dengan 60 unit akan dikirimkan hingga tahun 2023, menurut penilaian tersebut. Laporan tersebut mengutip insiden pada tahun 2025 di mana laras 125 mm tank VT4 meledak selagi bertempur di dekat perbatasan Tailan-Kamboja, melukai kru tiga orang, dan menyatakan akun media sosial yang belum terkonfirmasi mengklaim adanya masalah keandalan yang lebih luas dan umur pakai laras senjata yang lebih pendek.

Beberapa kegagalan yang dilaporkan pada peralatan buatan Tiongkok terjadi dalam pertempuran bukan selama latihan, sebuah pertanda mengkhawatirkan bagi pembeli seperti Tailan dan Myanmar, kata penilaian tersebut.

Pesawat yang rusak

Platform udara juga menarik perhatian serupa. Myanmar menghentikan operasional sebagian besar jet tempur JF-17 Thunder yang baru diperolehnya pada akhir tahun2022 akibat retakan parah pada struktur pesawat dan malfungsi pada radar buatan Tiongkok, menurut laporan tersebut. Komputer pesawat mengalami kesulitan dalam penargetan di luar jangkauan visual.

Tiongkok masih tertinggal dari pemasok Barat dalam hal mesin dan bahan komposit, kelemahan yang dapat mengancam ketahanan dalam lingkungan bertekanan tinggi, kata analis pertahanan Su Tzu-yun, Direktur Divisi Strategi dan Sumber Daya di Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan.

“Masalah umum dengan peralatan militer Tiongkok adalah performa puncaknya terlihat bagus di atas kertas, tetapi performa berkelanjutan tidak dapat diandalkan,” kata Su kepada Focus.

Pesawat latih dan drone telah menimbulkan keluhan terkait pemeliharaan, menurut penilaian tersebut.

Cranny-Evans menyebutkan beberapa kecelakaan yang melibatkan pesawat latih FT-7 buatan Tiongkok milik Bangladesh pada beberapa tahun sebelumnya. Sejumlah pilot tewas dalam beberapa kecelakaan tersebut, termasuk pada tahun 1998 dan 2001.

Bangladesh juga mengeluhkan masalah dengan pesawat latih ringan K-8W pada tahun 2020, termasuk masalah kinerja sistem senjata dan cacat pada sistem avionik, serta kekhawatiran terkait kualitas suku cadang dan perakitan awal, katanya.

Drone dan kapal laut rusak

Sistem tak berawak menunjukkan risiko serupa, kata studi tersebut. Yordania merasa tidak puas dengan armada drone CH-4B Rainbow-nya dan menawarkannya untuk dijual, sementara delapan dari 20 unit CH-4 Irak mengalami kecelakaan dalam beberapa tahun pertama. Irak terpaksa menyimpan sisa armada tersebut sebagai cadangan karena kekurangan suku cadang.

Di laut, penilaian tersebut mengutip laporan pihak ketiga yang menyebutkan frigat F-22P buatan Tiongkok milik Pakistan mengalami masalah yang memengaruhi komponen sistem rudal, radar, dan mesin. Beberapa suku cadang yang disuplai untuk kapal perang buatan Tiongkok tersebut ternyata cacat, menurut laporan dari pihak luar.

Peralatan militer yang kompleks dapat mengalami kegagalan karena berbagai alasan, termasuk kesalahan pengguna dan pemeliharaan yang buruk, kata Cranny-Evans. Namun, maraknya keluhan menunjukkan tantangan dalam pengendalian mutu menjadi lebih parah ketika dukungan purnajual tidak memadai. “Sering kali, kekhawatiran pelanggan tidak ditanggapi,” tulisnya, sambil memperingatkan pengguna "akibatnya bisa menjadi lebih rentan.”

Sorotan terhadap hal ini terjadi meskipun Tiongkok tetap menjadi eksportir senjata yang siginfikan berdasarkan volume. Tiongkok menyumbang 5,9% dari ekspor senjata global pada periode 2020–2024, menempati peringkat keempat di dunia, dengan hampir dua pertiga ekspornya ditujukan ke Pakistan, menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm.

Tiongkok dapat mengatasi berbagai masalah tersebut jika para eksportir mengombinasikan penjualan dengan pasokan suku cadang yang andal, dukungan pemeliharaan, dan pengembangan lanjutan agar sistem berfungsi sesuai janji, kata Cranny-Evans. Namun, sering kali Tiongkok gagal memberikan dukungan yang cukup, dan beberapa negara mitra justru menghadapi gangguan kritis di tengah pertempuran, alih-alih saat menjalani latihan, ujarnya.

“Waktu akan membuktikan apakah masalah ini dapat diselesaikan, tetapi saat ini, ada alasan untuk berhati-hati dalam membeli peralatan dari Tiongkok,” tulisnya.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link