Kriminalitas & Keadilan

Kepala pertahanan AUKUS tegaskan kembali program kapal selam untuk menangkal ekspansi kekuatan laut Tiongkok

Program kapal selam ini muncul setelah dua provokasi Tiongkok terhadap pesawat Australia tahun ini.

(Kiri ke kanan) Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Australia Richard Marles, dan Menteri Pertahanan Inggris John Healey menyampaikan pernyataan dalam Pertemuan Tahunan Menteri Pertahanan AUKUS di Washington, 10 Desember. [Jim Watson/AFP]
(Kiri ke kanan) Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Australia Richard Marles, dan Menteri Pertahanan Inggris John Healey menyampaikan pernyataan dalam Pertemuan Tahunan Menteri Pertahanan AUKUS di Washington, 10 Desember. [Jim Watson/AFP]

Oleh Zarak Khan |

Para kepala pertahanan Amerika Serikat, Australia, dan Inggris kembali menegaskan komitmen untuk meningkatkan produksi kapal selam serang bertenaga nuklir di bawah kemitraan keamanan AUKUS. Mereka menekankan peran penting pakta tersebut dalam menghadapi meluasnya jangkauan militer Tiongkok yang kian pesat di kawasan Indo-Pasifik.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada 10 Desember menjadi tuan rumah Pertemuan Tahunan Menteri Pertahanan AUKUS di Pentagon, yang dihadiri Menteri Pertahanan Australia Richard Marles dan Menteri Pertahanan Inggris John Healey. Dalam pertemuan tersebut, ketiga pemimpin menegaskan kembali “komitmen bersama terhadap kemitraan AUKUS.”

Dalam pernyataan bersama setelah pertemuan, ketiga pemimpin pertahanan mengatakan mereka membahas “cara-cara untuk terus memperkuat AUKUS” dan sepakat meningkatkan “kecepatan serta fokus dalam pelaksanaan” guna memastikan keberhasilan jangka panjang kemitraan tersebut.

Meski kemitraan AUKUS mencakup beragam teknologi pertahanan mutakhir, pilar yang paling strategis tetaplah rencana Australia untuk memperoleh kapal selam serang bertenaga nuklir.

Badan Pengadaan Kapal Selam Kementerian Pertahanan Inggris pada bulan Oktober membagikan foto sebuah kapal selam, seraya menyatakan AUKUS akan memungkinkan Australia memperoleh kapal selam bertenaga nuklir dengan persenjataan konvensional sekaligus memperkuat basis industri kapal selam nasionalnya. [Badan Pengadaan Kapal Selam/X]
Badan Pengadaan Kapal Selam Kementerian Pertahanan Inggris pada bulan Oktober membagikan foto sebuah kapal selam, seraya menyatakan AUKUS akan memungkinkan Australia memperoleh kapal selam bertenaga nuklir dengan persenjataan konvensional sekaligus memperkuat basis industri kapal selam nasionalnya. [Badan Pengadaan Kapal Selam/X]

Menunjukkan komitmen bersama untuk terus melaju dengan AUKUS, para pejabat pertahanan senior menyatakan tengah mengupayakan "penyediaan infrastruktur utama dan penguatan tenaga kerja guna menopang basis industri kapal selam trilateral yang lebih kuat."

Target maksimum 5 kapal selam bertenaga nuklir dalam 15 tahun

Di klausul kapal selam dalam pakta tersebut, Australia akan membeli sedikitnya tiga kapal selam kelas Virginia dari Amerika Serikat dalam 15 tahun, dengan opsi membeli maksimum lima unit.

Canberra mengumumkan rencananya untuk menyalurkan pembayaran berikutnya sebesar US$1 miliar guna memperluas kapasitas produksi kapal selam AS.

Dengan pembayaran tersebut, total kontribusi Australia bagi basis industri kapal selam AS kini mencapai US$2 miliar.

Menjelaskan langkah itu, Marles mengatakan investasi tersebut bertujuan “meningkatkan kapasitas produksi dan pemeliharaan” basis industri AS untuk “kapal selam kelas Virginia yang akan dioperasikan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat.”

London mengumumkan investasi sebesar £6 miliar (US$8 miliar) pada infrastruktur penting di Barrow dan Derby—dua pusat industri strategis yang menopang peran Inggris dalam program kapal selam bertenaga nuklir di bawah kemitraan AUKUS.

Menurut Kementerian Pertahanan Inggris, investasi ini akan menciptakan “kemampuan untuk memproduksi satu kapal selam AUKUS baru setiap 18 bulan.”

Produksi kapal selam berkelanjutan di bawah AUKUS diperkirakan akan menghasilkan hingga 12 kapal selam serang untuk Inggris, kata kementerian tersebut.

Tiongkok konsisten mengkritik AUKUS dengan menyatakan penentangannya terhadap konfrontasi berbasis blok dan “segala hal yang meningkatkan risiko proliferasi nuklir serta memperparah perlombaan senjata.”

Pembangunan cepat Tiongkok

Namun, keberatan Beijing terhadap aksi militer regional dinilai kurang kredibel mengingat skala dan laju pembangunan militernya sendiri, kata para analis pertahanan.

Pertumbuhan tersebut berfokus pada penguatan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), yang kini memiliki “lebih dari 370 kapal tempur, dengan sekitar 70 persen di antaranya diluncurkan hanya dalam satu dekade terakhir,” tulis analis keamanan Indo-Pasifik Jennifer Parker dalam The Interpreter edisi November.

Tiongkok telah menambah armada kapal selamnya secara signifikan, meluncurkan sejumlah kapal induk baru, serta mengerahkan rudal jarak jauh yang mampu menyerang kapal dan pangkalan di seluruh jalur perairan yang dipersengketakan.

Aktivitas Tiongkok “di sekitar Taiwan, serta perilakunya yang semakin agresif terhadap kapal dan pesawat Australia maupun negara lain di Laut Tiongkok Selatan, menegaskan besarnya risiko yang dihadapi,” tulis Parker dalam analisisnya untuk Lowy Institute pada bulan November.

Di tengah ketidakstabilan global dan besarnya kekuatan militer Tiongkok, kewajiban Australia untuk melindungi kepentingan nasionalnya dapat "terasa sangat sulit,” ujarnya.

“Namun, jalan keluarnya bukan dengan berupaya menyamai kekuatan militer Tiongkok. Langkah awalnya adalah memahami apa saja kepentingan tersebut, di mana letak kerentanan Australia, serta bagaimana cara terbaik melindunginya jika terjadi krisis atau konflik," tambah Parker.

Dalam konteks ini, program kapal selam AUKUS dapat berfungsi sebagai “penangkal ambisi militer Beijing di kawasan Indo-Pasifik,” dengan perkiraan biaya sekitar A$368 miliar (US$245 miliar) dalam beberapa dekade ke depan untuk pembangunan, pemeliharaan, dan infrastruktur, menurut Australian Financial Review.

Pentingnya program AUKUS kian mendesak setelah serangkaian konfrontasi terbaru antara Tiongkok dan sekutu Amerika Serikat.

Pada bulan Oktober, Australia secara resmi melayangkan protes kepada Tiongkok setelah sebuah jet tempur Tiongkok melepaskan suar (flare) pada jarak berbahaya dekat pesawat Angkatan Udara Australia yang tengah melakukan pengawasan rutin di atas Laut Tiongkok Selatan.

Canberra menyebut insiden itu “tidak aman dan tidak profesional,” seraya menyatakan terjadi di ruang udara internasional di dekat Kepulauan Paracel yang disengketakan.

Insiden tersebut bukan satu-satunya peristiwa. Pada bulan Februari, Australia juga mengkritik jet Tiongkok yang melepaskan suar di dekat pesawat pengintai Poseidon.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link