Oleh Ha Er-rui |
Baru-baru ini, Tiongkok meningkatkan operasi laut dan udara di sekitar perbatasannya. Selain meningkatkan kemampuan tempur konvensional, Beijing menguji mobilisasi dan koordinasi dengan mengintegrasikan sumber daya sipil ke dalam operasi negara. Pergeseran ini menimbulkan kekhawatiran soal keamanan dan stabilitas regional.
Tiongkok berulang kali mengancam untuk merebut Taiwan, negara pulau yang demokratis.
Pada 16 Januari, The New York Times mengungkapkan analisis data pergerakan kapal yang menunjukkan bahwa sejak 25 Desember, Tiongkok telah dua kali melakukan pengerahan besar-besaran perahu nelayan di Laut Tiongkok Timur. Armada itu berulang kali melakukan hal yang tidak biasa dan beroperasi dalam formasi rapi. Pergerakan itu bisa jadi latihan milisi laut, kata para analis.
Pada 25 Desember, sekitar 2.000 perahu nelayan Tiongkok membentuk dua barisan di Laut Tiongkok Timur. Mereka membuat formasi L terbalik, dengan setiap baris membentang sekitar 290 mil (537 km), menurut laporan itu.
![Perahu nelayan Tiongkok terlihat berbaris di Laut Jepang, yang juga dikenal sebagai Laut Timur, pada 21 Desember 2019. [AFP]](/gc9/images/2026/02/05/54506-chinese_flagged_boats-370_237.webp)
Pada 11 Januari, 1.400 perahu nelayan kembali berkumpul membentuk persegi panjang yang membentang lebih dari 200 mil (370 km). Data pelacakan kapal menunjukkan kepadatan formasi itu yang membuat beberapa perusahaan pelayaran internasional mengubah rute mereka.
Menghalangi jalur laut
Formasi ganjil ini pertama kali ditemukan oleh Jason Wang, kepala operasi untuk ingeniSPACE, perusahaan analisis data. Dalam konflik atau krisis, Tiongkok dapat memobilisasi banyak kapal sipil untuk menutup jalur laut, sehingga mempersulit operasi militer dan jalur pasokan lawan, katanya.
Armada itu "jelas tidak sedang menangkap ikan, dan tidak ada alasain lain di benak saya selain perintah negara," kata Gregory Poling, direktur Asia Maritime Transparency Initiative di Center for Strategic and International Studies di Washington.
Laporan tersebut mengutip pendapat Poling bahwa mobilisasi itu mungkin latihan pengerahan skala besar dalam situasi darurat di masa depan, atau dukungan bagi operasi maritim seperti "karantina" atau blokade untuk memaksimalkan tekanan pada Taiwan.
Kumpulan perahu itu bisa saja jadi "umpan misil dan torpedo, membanjiri radar atau sensor dron dengan seabrek sasaran," kata Thomas Shugart, mantan perwira angkatan laut AS yang sekarang rekan peneliti di Center for a New American Security. Armada perahu nelayan saja mungkin tidak efektif untuk blokade, tetapi dapat menghalangi kapal perang dan kapal dagang asing.
Mengerahkan kapal sipil untuk perang
Dua pengerahan besar-besaran dalam waktu singkat itu menunjukkan bahwa militer Tiongkok mungkin sedang memastikan kemampuannya untuk memobilisasi dan mengorganisasi kapal sipil serta menguji kelayakan pengintegrasian kapal sipil ke sumber daya tempur, kata Letjen (Purn) Chang Yen-ting dari Taiwan kepada CTi News dalam sebuah wawancara. Jumlah kapal yang besar itu dapat menguras daya tembak anti-kapal lawan, sehingga meningkatkan beban tanggapan, katanya.
Mengenai pilihan Tiongkok melakukan latihan mobilisasi saat musim dingin, Chang berpendapat bahwa Tiongkok mengatur waktunya saat tidak banyak topan dan kecil tangkapan ikan. Keadaan itu memudahkan mobilisasi nelayan dan pengaturan latihan.
Jika data pelacakan kapal tepat, maka pengerahan itu "tidak hanya merupakan mobilisasi dan pengumpulan perahu nelayan skala besar yang efektif, tetapi juga indikator konkret dari kematangan sistem komando dan kendali untuk 'kapal milisi maritim'," kata Lin Chau-luen, pembantu rekan peneliti di Institute for National Defense and Security Research di Taiwan, dalam ulasan yang diterbitkan institut itu.
Jika ketegangan meningkat di Laut Tiongkok Timur, Laut Tiongkok Selatan, atau Selat Taiwan, pengerahan semacam itu "dapat secara signifikan memperpendek waktu reaksi dan kemampuan tanggap untuk komando dan kendali komandan di semua tingkatan," kata Lin.
Menghadapi ancaman tidak biasa seperti itu, Lin mengatakan bahwa sangat penting untuk tetap tenang dan berorientasi pada bukti serta menghindari penafsiran berlebihan terhadap situasi. "Yang kita butuhkan bukanlah reaksi panik, melainkan upaya yang lebih substansial untuk memastikan dan menganalisis data (seperti citra satelit) ... untuk mengambil keputusan yang tepat," katanya.
![Tangkapan layar video menunjukkan kapal nelayan Tiongkok beroperasi dalam formasi rapat di Laut Tiongkok Timur pada 25 Desember. Itu bagian dari operasi besar yang kabarnya melibatkan lebih dari 1.700 perahu yang melintasi laut itu antara 23 dan 28 Desember. [Starboard Maritime Intelligence/X]](/gc9/images/2026/02/05/54505-1000_ships-370_237.webp)