Ekonomi

Empat tahun setelah letusan, pinjaman Tiongkok bebani pemulihan Tonga

Tonga memiliki populasi sekitar 100.000 orang. Pada 2024, utangnya kepada Tiongkok melampaui US$100 juta.

Pekerja membangun rumah di Tonga dalam rangka rekonstruksi pascaletusan gunung berapi dan tsunami 2022, sementara utang kepada Tiongkok membayangi proses pemulihan. [Habitat for Humanity New Zealand]
Pekerja membangun rumah di Tonga dalam rangka rekonstruksi pascaletusan gunung berapi dan tsunami 2022, sementara utang kepada Tiongkok membayangi proses pemulihan. [Habitat for Humanity New Zealand]

Oleh AFP |

NUKU'ALOFA, Tonga -- Lebih dari empat tahun setelah salah satu letusan gunung berapi paling dahsyat dalam sejarah, Tonga masih kesulitan memperbaiki infrastrukturnya sembari membayar pinjaman besar dari Tiongkok.

Saat Hunga Tonga–Hunga Ha'apai meletus pada 15 Januari 2022, dentumannya terdengar hingga Alaska dan memicu tsunami dahsyat yang menerjang pulau utama Tonga sekitar 65 km dari lokasi letusan, menewaskan tiga orang.

Ratusan rumah rusak, banyak usaha hancur, dan jalan putus, sementara sebagian besar pasokan air menjadi tidak layak minum karena hujan abu setebal 15 cm di kepulauan Tonga.

Perdana Menteri Tonga Lord Fakafanua menyatakan bulan lalu bahwa sebagian besar program rekonstruksi pemerintah telah selesai, meskipun masih ada “sejumlah pekerjaan yang tersisa.”

Raja Tonga Tupou VI berjabat tangan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing pada 25 November tahun lalu. Negara kepulauan Pasifik itu berupaya bangkit kembali sembari menanggung utang besar kepada Tiongkok. [Maxim Shemetov/Pool/AFP]
Raja Tonga Tupou VI berjabat tangan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing pada 25 November tahun lalu. Negara kepulauan Pasifik itu berupaya bangkit kembali sembari menanggung utang besar kepada Tiongkok. [Maxim Shemetov/Pool/AFP]

Dampak kerusakan tsunami masih tampak nyata di beberapa wilayah Tonga.

Puing rumah dan tempat usaha yang dihantam gelombang masih berserakan di dekat pantai di pesisir barat Tongatapu, dan di Pulau 'Eua yang berada di dekatnya, wisatawan dianjurkan membawa uang tunai dari ibu kota Nuku'alofa karena mesin ATM dan layanan perbankan belum beroperasi.

Namun, meskipun Lord Fakafanua ingin mengatasi semua masalah tersebut, ia mengatakan kepada AFP bahwa pemerintahnya tidak akan berutang lagi.

Beban utang

Dokumen anggaran memperlihatkan pinjaman sebesar US$67,36 juta dari Exim Bank Tiongkok yang digunakan untuk membangun kembali distrik pusat bisnis Nuku'alofa pascakerusuhan 2006.

Pinjaman awal pada 2008 berjumlah US$55 juta, tetapi dengan akumulasi bunga, total utangnya melonjak menjadi lebih dari US$100 juta pada 2024. Jumlah penduduk Tonga sendiri hanya sedikit di atas 100.000 jiwa.

Pemerintah Tonga berjanji melunasi utangnya pada 2030. Hingga Juni 2025, negara itu telah membayar US$17,7 juta kepada Tiongkok sebagai bagian dari total pembayaran utang senilai US$29,4 juta.

Pembayaran tersebut merupakan bagian besar dari pengeluaran pemerintah di negara kecil itu, di mana anggaran infrastruktur tahunannya hanya sekitar US$10,1 juta.

Anggaran kesehatan pada tahun yang sama mencapai US$24,9 juta, yang meningkat berkat pendanaan satu-kali dari para donor, termasuk Selandia Baru dan Australia, untuk membangun kembali rumah sakit serta fasilitas keperawatan di Nuku'alofa.

Anggaran kesehatan tahun ini diperkirakan turun signifikan, meskipun negara itu memiliki tingkat obesitas, diabetes, dan penyakit tidak menular yang mengkhawatirkan.

“Kami sebenarnya bisa menggunakan uang itu untuk keperluan lain,” kata Lord Fakafanua kepada AFP saat ditanya apakah utang kepada Tiongkok menghambat kebutuhan kesehatan dan infrastruktur Tonga.

“Namun, Tonga punya perjanjian pinjaman, dan kami berkomitmen melunasi utang itu."

Dukungan Tiongkok

Sementara Tonga mengetatkan fiskal, Tiongkok berusaha memperluas pengaruhnya di kawasan Pasifik melalui penawaran pinjaman dan pembangunan infrastruktur.

Saat Raja Tonga Tupou VI berkunjung ke Beijing pada bulan November, Presiden Xi Jinping mengatakan Tiongkok siap “memberikan bantuan bagi pembangunan ekonomi dan sosial Tonga” serta menegaskan keinginannya agar “kemerdekaan dan kedaulatan” Tonga tetap terjaga.

Lord Fakafanua menyatakan negaranya tidak akan mengambil pinjaman baru dari Tiongkok.

“Kami saat ini berada dalam posisi tidak lagi mengambil pinjaman; kami tidak akan menambah utang lagi,” kata Lord Fakafanua kepada AFP.

“Kami kini lebih bijak dalam mengelola keuangan,” ujarnya menambahkan.

Menurut dokumen anggaran Tonga, negara itu menghadapi risiko signifikan dari pinjamannya kepada Tiongkok, dengan “risiko pembiayaan ulang dan risiko nilai tukar menjadi kekhawatiran utama.”

Dana Moneter Internasional menyatakan Tonga menghadapi risiko tinggi terlilit utang.

Hibah Bank Dunia

Tonga telah menerima sejumlah hibah dari Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia untuk membangun infrastruktur yang sangat dibutuhkan.

Termasuk di antaranya proyek Jembatan Laguna Fanga'uta senilai US$97 juta yang kini sedang dalam pembangunan—proyek infrastruktur terbesar sepanjang sejarah Tonga.

Jembatan sepanjang 720 meter tersebut akan menghubungkan Nuku'alofa dengan bagian selatan pulau utama Tonga, Tongatapu.

Lebih dari 120 warga Tonga terlibat dalam proyek itu, yang akan menjadi jalur evakuasi baru bagi Nuku'alofa apabila terjadi tsunami atau banjir akibat siklon tropis.

Perdana Menteri Selandia Baru Christopher Luxon meninjau lokasi proyek jembatan itu saat kunjungan dua hari ke Tonga Maret lalu, dan bertemu dengan perusahaan Selandia Baru McConnell Dowell yang mengerjakan pembangunan jembatan tersebut.

Luxon menyatakan dukungannya terhadap fokus Tonga pada pengendalian fiskal, seraya menegaskan “sudah sewajarnya” Selandia Baru siap memberikan bantuan bila dibutuhkan.

Apakah Anda menyukai artikel ini?

Policy Link